Desember tiba-tiba datang, tak terasa, ah-penghujung tahun.
Sudah berapa banyak waktu yang kuhabiskan dalam laku, dalam karya?
Duaributigabelas... Seribu empat ratus tiga puluh lima.
Akhirnya aku merasakan euforia pelajar tahun akhir. Senang-kau tahu?
Senang, dan sesal, tentu.
Senang karena semangatku bisa muncul lagi,
senang karena bisa kurasa rindu menggebu pada keluarga yang dua tahun bersama,
senang karena aku dan kawan-kawanku bisa mengeratkan jemari, berlari bersama: Masa depan!
Kalaupun ada sesal, maka itu adalah hasil dari apa yang kulakukan dulu. Betapa sadisnya menginjak-injak waktu: Aih, sudahlah.
Maka yang sekarang bisa kulakukan hanyalah memampatkan sesal dan memompa bahagia.
Semangat ini, jangan sampai habis, jangan sampai kalah dilawan pesimis, spekulasi.
Hei, selalu ada keajaiban, kau tahu! (oh, boleh kaupikir aku adalah pengkhayal)
Tapi itu benar, tak ada yang pasti dan tak ada pula yang tak mungkin kecuali mati.
Maka tak ada salahnya terus berjuang, sekalipun mungkin tak sesuai harapan.
Aku yakin tak ada yang sia-sia, sekecil apapun itu.
Seperti yang Prof Yohannes Surya ungkap: Mestakung, Semesta Mendukung.
Kuanggap itu sebagai pertolongan Alloh, sebagai hasil dari kekuatan berpikir (dan berusaha) positif.
Alloh... Mudahkanlah.
desember 2013/ shafar 1453
Tampilkan postingan dengan label masa depan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masa depan. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Desember 2013
Jumat, 01 November 2013
Senandung Puisi Dokter Probo (4)
Kamis, 03 Oktober 2013
Tentang (sahabat-sahabat) saya.
Keren.
Orientasinya sudah jauh sekali. Jauh, tapi benar. Mengagumkan, dan semua yang masih memiliki nurani akan merasai hal yang sama.
Bersyukur masih diberi nikmat hidup disini, seburuk apapun keadaan yang kita alami.
Tidakkah oksigen ini, udara ini adalah hal terindah yang masih bisa kita rasakan? Tidakkah jantung yang berdetak ini adalah sesuatu yang seharusnya membuat kita mengucap syukur pada Alloh?
Sungguh, darah ini, yang tak henti mengalir dalam mata yang sedang mengerjap, dalam jemari tangan yang menyentuh tuts keyboard ini, dalam segala.
Bersyukur? Sudah cukup di situ? Ah- Sungguh buat apa kita hidup? Tentu untuk menyiapkan bekal. Bekal akhirat. Tak jarang perasaan ingin mengakhiri itu ada, namun sudahkah kita siap dengan apa yang akan kita temui berikutnya? Masih ada sakaratul maut, alam kubur, Padang Mahsyar...
Siapkah? Dengan bekal yang sedikit ini? Sangat sedikit, itupun kalau belum dikurangi dengan dosa dosa saya, dengan trasnpor pahala karena dosa ghibah saya?
Aaah, begitu jauh, begitu tak terjangkau. Pemikirannya sudah melesat. Mimpi, ah memiliki mimpi memang hal yang menakjubkan. Lebih mengagumkan lagi bila kita mencapainya. Sungguh, sukses akhirat dunia bukan hal mudah, tapi bisa dicapai jika mau usaha dan doa.
Bisakah saya?
Selalu. Rasanya masih belum bisa semelesat dia, sehebat dia yang satunya, sesemangat dia yg satunya lagi, sekritis dia yg lain.
Maka mampukah saya? Pantaskah saya bermimpi pula?
Cih, sejak kapan lagakmu jadi seperti pecundang. Sejak kapan kau takut bermimpi?
Bukankah kertas berisikan 100 mimpimu itu kau tulis dengan rekat dan mantap?
Masihkah ia tertempel di hatimu, seperti ia masih ada di pintu kamarmu dulu?
Ayo, lepaskan kungkungan itu.. Optimisme dan kemerdekaan berhak untuk berdiri.
Biarlah mereka lepas, biarlah mereka ada....
-nurrahma, kamar, Dzulqo'idah 1434 H / Oktober 1213 M
ah-tak jelaskah? Biar. Ini tentang sahabat-sahabatku yang istimewa -
Orientasinya sudah jauh sekali. Jauh, tapi benar. Mengagumkan, dan semua yang masih memiliki nurani akan merasai hal yang sama.
Bersyukur masih diberi nikmat hidup disini, seburuk apapun keadaan yang kita alami.
Tidakkah oksigen ini, udara ini adalah hal terindah yang masih bisa kita rasakan? Tidakkah jantung yang berdetak ini adalah sesuatu yang seharusnya membuat kita mengucap syukur pada Alloh?
Sungguh, darah ini, yang tak henti mengalir dalam mata yang sedang mengerjap, dalam jemari tangan yang menyentuh tuts keyboard ini, dalam segala.
Bersyukur? Sudah cukup di situ? Ah- Sungguh buat apa kita hidup? Tentu untuk menyiapkan bekal. Bekal akhirat. Tak jarang perasaan ingin mengakhiri itu ada, namun sudahkah kita siap dengan apa yang akan kita temui berikutnya? Masih ada sakaratul maut, alam kubur, Padang Mahsyar...
Siapkah? Dengan bekal yang sedikit ini? Sangat sedikit, itupun kalau belum dikurangi dengan dosa dosa saya, dengan trasnpor pahala karena dosa ghibah saya?
Aaah, begitu jauh, begitu tak terjangkau. Pemikirannya sudah melesat. Mimpi, ah memiliki mimpi memang hal yang menakjubkan. Lebih mengagumkan lagi bila kita mencapainya. Sungguh, sukses akhirat dunia bukan hal mudah, tapi bisa dicapai jika mau usaha dan doa.
Bisakah saya?
Selalu. Rasanya masih belum bisa semelesat dia, sehebat dia yang satunya, sesemangat dia yg satunya lagi, sekritis dia yg lain.
Maka mampukah saya? Pantaskah saya bermimpi pula?
Cih, sejak kapan lagakmu jadi seperti pecundang. Sejak kapan kau takut bermimpi?
Bukankah kertas berisikan 100 mimpimu itu kau tulis dengan rekat dan mantap?
Masihkah ia tertempel di hatimu, seperti ia masih ada di pintu kamarmu dulu?
Ayo, lepaskan kungkungan itu.. Optimisme dan kemerdekaan berhak untuk berdiri.
Biarlah mereka lepas, biarlah mereka ada....
-nurrahma, kamar, Dzulqo'idah 1434 H / Oktober 1213 M
ah-tak jelaskah? Biar. Ini tentang sahabat-sahabatku yang istimewa -
Sabtu, 01 Desember 2012
Peta Hidup?
And now, balik ke hidup yang produktif !
Well, I don't want to be like this forever-uh, menyedihkan sekali pasti.
Kemarin, karena terinspirasi oleh beberapa blog teman, aku sudah mulai membuat peta hidup. You know, what? P-E-T-A H-I-D-U-P ! sound cool, rite?
ok, berlebihan.
tapi soalnya aku lagi penuh semangat, nih :). Mumpung semangat, ya diarahkan sekalian ke yang positif kan? ;D
Jadi, peta hidup itu semacam mimpi-mimpi kamu.
Tuliskan aja sedetail mungkin, misal: '20 Januari aku menang lomba Bahasa Jepang'; atau 'UNAS 2013: masuk 3 besar terbaik'. Yah, nggak harus yang akademik gitu, sih. Tentang kamu mau beli DSLR, atau bisa masak sayur lodeh, itu juga ditulis aja.
Paham'kan intinya, kayak catatan target hidup gitu. Tapi dibikin menarik, dikasih warna-warna. Bikin sedetailnya plus dikasih gambar biar semangat mewujudkannya. Kalau bisa dibikin di kertas yang agak besar terus ditempel di kamar :)
Seriusan deh, bikin beginian itu juga melatih kita biar mau bermimpi. Biar nggak takut bermimpi. Kalau kata Hasan Al Banna sih:
“Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemarin, dan mimpi kita hari ini adalah kenyataan hari esok.”
Tuh, semua berawal dari mimpi, dari harapan. Istilahnya salah satu kakak angkatanku dulu: manusia yang hidup tanpa harapan; hidup tanpa mimpi itu kayak ZOMBIE.
Makanya jangan takut bermimpi. Kenapa? Karena ada Alloh. Be khusnudzon sama Alloh. Yakin deh, Alloh pasti mendengar kita. Berharaplah kepada Alloh supaya Ia mengabulkan mimpi-mimpi kita. :DD Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini kalau Alloh mengizinkan. Pokoknya yakin, niatkan dalam hati. Berusaha , full doa juga.
Semoga (dan insyaAlloh) Alloh mengabulkan mimpi dan harapan kita...
"Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu."
-Arai; Tetralogi Laskar Pelangi-
1 desember 2012
kepada desember penuh cinta,
nurrahma rpa
Langganan:
Postingan (Atom)
