Tampilkan postingan dengan label katakata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katakata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2015

...

Meskipun aku tahu, bahwa aku terbentuk dari sperma pilihan, sperma dengan pertahanan diri terbaik dan dengan kecepatan tertinggi.... Meskipun aku tahu, aku terbentuk melalui serangkaian proses yang kemungkinan berhasilnya sangat sedikit dibanding dengan peluang gagal. Meskipun aku tahu.. bahwa Alloh tak pernah menciptakan hambaNya dalam kondisi yang bukan terbaik..... Meskipun aku tahu.... bahwa segala sesuatunya pasti ada hikmahnya, tak ada yang tak mungkin bila Alloh berkehendak, dan semua pasti ialah skenario terbaikNya.





Tetapi Ya Rabb. Di titik ini aku turun serendah-rendahnya.
HambaMu ini hilang kepercayaan kepada kehidupan itu sendiri.
Aku... CiptaanMu... Tak pernah melakukan barang sedikit saja sesuatu dengan baik.

Aku... HambaMu, ternyata masih belum bisa membahagiakan siapapun.
Melakukan sesuatu tidak pernah baik, tidak pernah benar.

Maka bukankah dengan berbicara seperti ini sama saja dengan mengumumkan berita perang kepadaMu?
Bukankah dengan aku yang berkata seperti ini sama artinya dengan aku yang tak bersyukur padaMu?
Padahal dengan jelasnya Kau Ungkap bahwa jika hambaMu bersyukur padaMu, maka akan Kautambah nikmat dariMu....

Ya Rabb. Ampuni aku. Bukankah aku kurangajar? Maafkan, aku masih merasa: I'm never be good enough. For everyone. For my family. For You.




nurrahma,
19 Feb 2015

Minggu, 08 Februari 2015

:(

Aku bahkan sudah tak mampu berkata-kata.

Nilai(yang) ku (anut) dan nilai (yang) kau (anut) memang berbeda..  Sangat.
Kaupikir buat apa aku rela ikut di mobilmu kalau bukan untuk tak membiarkanmu berdua hanya dengannya?
Kaupikir aku tak bisa menelepon meminta jemput sejak tadi di sekolah?
Sungguh aku khawatir hanya pada satu hal. Ketika satu insan laki dan perempuan berada dalam ruang yang sama.
Sungguh, nilaiku dan nilaimu memang jauh berbeda.

Maafkan.
Toh ini mobilmu.
Aku tak berhak menuntut ketika kauminta aku keluar.
Aku toh hanya numpang.
Maafkan pemikiranku yang kolot ini.
Sungguh aku percaya padamu. Aku hanya tak ingin aku membiarkannya.
Maafkan aku yang meragukanmu.



nurrahma, 8 feb 2015

Minggu, 25 Januari 2015

Halo, Januari!

Kali ini aku ingin mencoba menyapa Januari. Januari-ku. Januari yang akan menjadi milikku.

Oh, terlambat? Mungkin juga. Tapi aku ingin tak sekadar memiliki Januari. Aku ingin memiliki Februari, Maret, seterusnya sampai tahun berganti. Ya, jika masih ada waktu. Jika Alloh memang berkehendak memberiku waktu, maka biarlah ia benar-benar menjadi milikku.

Mengapa aku tetiba mengetik ini, sejujurnya karena aku akhir-akhir ini seakan-akan ditampar. Ditampar oleh-Nya melalui kata-kata sahabat-sahabatku, sahabat-sahabat lawasku. Adik-adikku, semuanya. Mereka, dengan gelora itu. Menyadari betapa besar harapan mereka, padaku.

"Besok kalau udah jadi dokter priksa guru-guru disini ya sebulan sekali..."

"Kalau udah sukses jangan lupa ya sama SMP..."

"Kamu. Adalah sosok muslimah yang kuat, nggak manja, nggak gampang mengeluh."

"Mbak itu adalah sosok yang keren di mata kami."


Dan seterusnya...
Sungguh Alloh masih menutup aib-aib ku dimata kalian, tahukah kalian akan hal itu?
Maka bermalas-malasan memang bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan. Ayolah, buat apa kamu hidup di dunia ini jika tidak berkarya? Seperti yang kaukatakan di depan kelas XII dulu, di depan Pak Bambang, "Kata Ayah, jangan melulu berpikir 'Biar aku... biar aku...' tetapi berpikirlah 'Biar bangsaku...'". Akh. Kamu. Dulu. Ayolah. Harus lebih baik. Harus mampu mengubah. jadilah solusi atas permasalahan masyarakat. AYO RIZ! DILIHAT ALLOH LHO!



nurrahma, 25 Jan 15

Kamis, 01 Januari 2015

Padam aku.

Kamu tahu, perasaan ini seperti dihimpit oleh sedikitnya oksigen.
Aku, padam, di hari pertama ketika semua orang menghembuskan mimpi-mimpi dan resolusi.

Berbeda, aku tahu ada yang tak sama disini. Tapi imaji kami selalu melukiskan karya ideal dan harmonis, serasi. Nyatanya? Ia lebih buruk, bahkan sangat rapuh.

Aku ingin bercerita, tetapi pada siapa? Pada siapa ia tersimpan rapat dan tidak malah berbalik untuk menjadi perisai?








Ketidakjelasan di tanggal dua. Maaf.
Semangat untuk kalian yang sungguh-sungguh berkomitmen di tahun ini, ah-semangat ya kalian.


nurrahma, Jan 15

Sabtu, 06 Desember 2014

Ibu

Jadi, begitu. Ah-betapa bahagiamu bukanlah semu karena kau masih diberi kesempatan untuk bisa lepas bercerita pada bidadarimu: Ibumu. Memang dengan bercerita pada Ibu, solusi dan komentar-komentar beliau sedikit banyak tentu akan melatih rasa dan emosi kita. Aku iri padamu. Padamu yang bisa semaunya curhat pada ibumu, mampu menggelendot manja pada pundaknya atau bahunya. Mampu entah dengan tergesa atau tidak, berkisah menggebu-gebu tentang orang-orang yang membuatmu sebal atau membuatmu begitu bahagia. Aku iri. Sungguh. Aku iri. Mungkin karena inilah, emosiku tak utuh. Kelogisanku tak utuh. Segala yang tak utuh akan menjadikannya tak sempurna.

(Kata batinku yang lain: Maka nikmat Tuhamu yang manakah yang kamu dustakan?)

nurrahma,
Desember 2014.

Kamis, 27 November 2014

Kepada yang patuh


Goblok.

Apalagi namanya jika bukan goblok? Mau-mau saja dibodohi.

Ah- katanya mahasiswa sebuah fakultas bergengsi, yang katanya terbaik di Indonesia.
Kalian tidak sadar sedang dibodohi? Dibikin mainan oleh mereka: sekumpulan manusia sok-sok an yang seenaknya saja menggunakan hak pilih kita semua?

Sayangnya saat itu ketika aku masuk, seorang lelaki dari kumpulan manusia sok tahu itu sudah keburu ngomong. Dan otak otak kalian yang jelas cerdas hanya manggut-manggut, kemudian dengan IKHLAS menyerahkan apa yang disebut sebagai IDENTITAS, sebagai HAK yang selama ini orang-orang junjung.
Baik, kalian tak mau repot. Aku ingin bertanya pada kumpulan pengendali pikir yang sejatinya berusaha membodohi mereka: Kalian kata kalian tak mau terburu-buru mengambil keputusan? Kalian bilang kalian ingin memilih yang terbaik? Kalian bilang diskusi dunia maya toh tidak adil, tidak mewakili semua. Lalu kali ini apa? Seenaknya bilang begitu: "Biar kami yang memilihkan...". Cih. Dan kehormatan yang mahasiswa-mahasiswa bergengsi itu diserahkan sepenuhnya, pada kalian. Bodoh. Bodoh karena mereka mau-mau saja, dan bodoh karena kalian ternyata tidak se logis yang aku bayangkan.

Dipikir kalianlah pengambil keputusan yang terbaik?

Hai otak-otak abu-abu yang mau-mau saja diinjak harga dirinya: ini soal bom waktu. Kalian yakin akan selalu se iya se kata tanpa pernah ikut berpikir? Padahal harga diri adalah salah satu yang membuat manusia bernilai. Bodoh. Bodoh. Bila boleh aku mengumpat, sudah habis segala tertutupi makian.



nurrahma, Nov 14

Senin, 17 November 2014

Aku tak tahu harus berkata apa

Terjerembab pada sajak-sajakmu yang kubaca sambil menyeduh lemon tea
Kau begitu mengerti bahwa aku selalu terpaku pada puisi-puisi
                   Puisi puisi jalang, puisi puisi liar

Mulanya aku tak pernah menduga ada beragam imaji dan hujatan tentang hidup dibalik kerenyahan gesturmu, selalu menipu. Ah- pantas kaumampu membaca makna: pasti ada ketulusan dibalik matamu.
Kautahu? Kali ini aku limbung. Layu aku mencerna nada-nada dalam barisan kalimat bikinanmu: Gila!
Gila kau! Kali ini aku kalah. Kali ini aku akan nyaring teriak: Dedah aku dengan segala tulisanmu!
Karena, sekali lagi, penyair selalu bisa menjadi saksi. Saksi paling jujur atas segala: ada.

Aku bahkan kehilangan kata. Kehilangan barisan-barisan yang biasanya memenuhi lemariku: bahkan sampai tumpah, meluap kemana-mana. Kali ini mereka kemana? Pergi, malu pada segala sajak-sajakmu.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa... 


Pudar mereka. Pudar aku. Enyah aku dalam segala ketiadaan.

nurrahma,
Sleman, November 2014

Sabtu, 15 November 2014

Perjuangan ini: keinginanku adalah sederhana.


Beberapa waktu lalu aku baru saja menyadari betapa menjadi seorang dokter adalah hal yang menakjubkan.
Memutuskan menjadi seorang dokter, adalah hal yang serius: serius diperjuangkan. Benar-benar tak sekadar belajar tentang hafalan, nama asing, dan segala reaksi sampai atom-atom kecil.
Seorang dokter, berhubungan dengan nyawa manusia.

Pernah seorang kawan bertanya,
“Kamu tidak takut? Profesi dokter sangat berisiko.”
“Itu adalah konsekuensi, kautahu? Aku ingin menyelamatkan, atau paling tidak menemani orang-orang yang tinggal selangkah terpapar kematian. Tidakkah tentu saja dengan kematian itu aku bergulat? Tidakkah pekerjaan ini memang profesi yang cocok untuk aku yang seringkali terlupa oleh kematian itu sendiri?”

Aku.. ingin belajar.
Tentang kematian. Tentang kehidupan.
Dua hal yang sama-sama ada. Sama-sama pasti. Tapi kenapa mati musti ditakuti?
Aku.. ingin mengenal lebih dekat, ingin berkawan dengan kematian.
Aku ingin ketika ia mengetuk pintuku, aku tidak merinding kaku,
tetap bisa mengucap syukur atas nikmat dari penciptaku.. pencipta segala.
Aku disini untuk belajar. Tentang apapun.
Tidakkah itu alasan yang cukup?


nurrahma, Sleman, 2014

Kamis, 06 November 2014

Kangen. Rindu.




Ketika kamu merindukan passion mu
Ketika kamu ingin sekali kembali:
      tapi kamu sudah terlanjur memasuki dunia yang nyatanya jauh berbeda

entah siapa yang memotret


















Aku rindu pada gerak dan sikap,
rindu bagaimana kepalan pendeta mengenai box,
kangen membetulkan kuda-kuda,
merasakan dan mencoba menjiwai sikap harimau dengan cakaran tangan

by nurrahma/13





















aku rindu, pada pelatih, pada teman, pada rival, pada kakak, pada adik, pada suasana
pada suasana semangat untuk jadi lebih,
rindu pada deg-degan yang muncul saat di seberang, kau lihat lawan tandingmu juga bersiap dengan body,
                   aku rindu.


beloved sistaaa:" (by nurrahma/13)





















Aku rindu
tapi tak tahu harus bagaimana

by Fatikha Lidea Riska MNS














Terpasung pada gerimis-gerimis ada: kalian.


nurrahma/2014

Selasa, 21 Oktober 2014

Matiku, matimu


Kepada adikku Luthfi Padmanaba 72:
Semoga amalmu nan hatimu yang bersih mengantar kematian yang membahagiakan: bersama cahaya di sana.


Begitu mudahnya kematian datang
menggerayangi dan merampas segala

Kamu takut pada kematian?
Padahal ia adalah gerbang menuju
cinta dan cita yang sesungguhnya abadi

Adikku hari ini berpulang,
           begitu cepat dan tak ada yang menyangka
Adikku kali ini berkurang satu,
            ia telah kembali menghadap pada cahaya kasih sayang!

Cukuplah kematian sebagai pengingatku
Bahwa tak perlu menunggu tua untuk tetiba tiada
Bahwa tak perlu ia mengetuk pintumu,
lalu bertanya:
         boleh aku masuk dan menjemputmu sekarang?

Ia, kematian,
tak pernah ada yang tahu kapan ia datang
Tapi semua orang takut!
Padahal ia adalah pintu dimensi lain
yang katanya diidamkan semua:
          surga!
Maka tak seharusnya kau menggigil mendengar
kata kematian!

Nikmatilah
            Apa yang harus kunikmati?
            Nyamannya kehidupan atau
             hening dan khidmatnya kematian?

Kematian,
kau terlalu cepat datang,
ah-tapi tak ada seorangpun yang
berhak menyalahkan sebab kau
begitu patuh pada titahNya

Kematian,
izinkan aku dengan sepenuh cinta berteriak
kurindukan aku berjumpa padamu,
untuk membawaku kepada Tuhan yang binarNya berseri:
             aku hambaMu, dan berserah pada Mu!


nurrahma, YK, 22 Okt 14

Maya

Kita saling tahu semua tidak ada yang seperti dulu
Masing masing kita mengerti-tapi berusaha abai
Tiap-tiap kita mencoba menjadi diri yang lalu
berinteraksi dengan cara yang sama:
                      Aih-lucunya

Kalian tidak lelah? Kalian tidak jenuh berpura?
                 Tentu saja: kita tak mau saling menyakiti
                 Tak mau mengubah memori yang terlanjur indah

Masing masing kita tahu, bahwa
sesungguhnya yang terkirim dalam pesan pendek
dalam jejaring kini
adalah racauan kepalsuan
Kepalsuan yang menenangkan
Kepalsuan yang memang kita inginkan

Aku bahagia dengan kemayaan kita,
yang bisa aku nikmati bersama secangkir dokumentasi masa lalu
                    Dan begitu pula kalian, kan?
Berharap semua masih seperti dulu
Dan kita saling mengisi mimpi itu
Sebuah kepura-puraan yang indah: sahabat dan kenangan



nurrahma, YK, 21 Okt 14

Senin, 06 Oktober 2014

Sudah Punya Cinta



ROSE. by nurrahma-2012. hp smartfren.

"Baiklah, kukatan yang sejujurnya: Aku sudah punya cinta yang lain!
Dan aku, takkan pernah meninggalkan dan berpaling dari cintaku yang pertama.
Kuharap kaumenghentikan semua ini dan mau mengerti."

-Aini, Cinta Roller Coaster-


Ya Rabb...
Tetiba aku teringat pada beberapa episode hidup, ah-
Betul, Aini, pada hakikatnya bukankah ada Ia yang dari awal selalu ada?
Betapa bodohnya jika kita mencintai sesuatu yang lain.
Sudah lelahkah kau mencintaiNya sehingga kau mencari cinta yang lain?
Padahal Ia tak pernah bosan melimpahkan segala:
udara,
bola mata,
denyut jantung yang tak jenuh berdetak,
saraf yang berkooordinasi dengan apiknya.

Bila boleh kukata, terlampau kurang ajar bila kita kemudian menduakan cinta padaNya.


"Izinkan hamba mencintaiMu dengan setulus-tulusnya cinta."

-Aini, Cinta Roller Coaster-

Ya... Izinkan hamba.




nurrahma, YK, Okt 14

Kamis, 04 Juli 2013

Kalah untuk Menang

"Dan tiap kali kita jatuh, tiap kali itu juga kita melatih kekuatan diri untuk bangkit.
Semakin banyak jatuh, semakin banyak bangkit,
maka makin tak terkalahkan dia oleh masalah di kehidupan."
-Ihtar Faiq-

Mataku berbinar ketika kubaca komentar seseorang di sebuah jejaring sosial. Ya, quotes di atas. Ketika aku membacanya, maka tersentuhlah hatiku.
Sungguh, aku tidak berhak menggugat Tuhan atas apa yang terjadi.
Kekalahan-kekalahan itu. Sebenarnya adalah pelajaran yang Alloh berikan untukku.
Kalau aku tak pernah kalah, pantaskah aku berharap menang?
Setiap aku kalah, aku pasti menemukan cara bagaimana agar aku bangkit.
Ketika aku menemui kesulitan itu, aku tahu aku tidak akan kalah lagi karena hal yang sama.

Alloh membuatku kuat.
Alloh membuatku tegar dengan masalah-masalah yang Ia Berikan.
Dia membuatku tahu bagaimana agar aku bisa bangkit disetiap aku kalah, hingga pada saatnya aku bisa menang.
Hingga ketika aku pantas, Alloh Menganugerahkan yang terbaik bagiku.

Alloh... :')


nurrahma, sya'ban 1434 H/Juli 2013

Selasa, 02 Juli 2013

Syukur

Dan We Are The Champions nya Queen ternyata memang berhasil kami dendangkan lewat perolehan medali dan piala juara umum.

Bangga, bahagia.

Akhirnya aku dan keluarga penuh kehangatan ini benar-benar bisa mempersembahkan sesuatu bagi Padmanaba. Bagi Perisai Diri tercinta.

Dan toh, teori yang 25 kemarin disampaikan oleh Mas Jalu ternyata sangat berhasil jika dibersamai dengan do'a. Sungguh, aku benar-benar sudah merasakan ini ada, bahkan sebelum kami  berangkat.

Besok, nama kami akan dipanggil, sebagai juara.

Besok, kami akan tertawa bersama, bahagia, bersyukur.

Kami, Mas Redi, Adek-adek....

Terimakasih ya Alloh...

<3



nurrahma, sya'ban 1434 H/Juli 2013

Senin, 10 Juni 2013

Aku kini.

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Sudah lama tidak benar-benar masuk ke blogku ini.
Terakhir pada desember tahun lalu. Dan dalam kurun waktu enam bulan ini, aku hanya sekadar menengok. Seringkali ada perasaan ingin menulis lagi. Tetapi pada ujungnya aku hanya melamun menatap monitor.
Seperti melihat dari balik kaca. Melihat, menikmati, tapi tak tersentuh.

Sekarang sudah sepuluh juni. Sepuluh juni duaributigabelas.
Lama. Lama sekali semenjak aku ada. Ada dalam artian sesungguhnya. Ada di dunia ini, lahir dengan polosnya dari rahim Ibuku.

Aku.
Apakah aku sekarang? Aku kini malah tidak bisa menjawabnya.
Denting waktu ternyata berjalan sedemikian cepatnya. Sedemikian melenakan.
Tak ada waktu untuk menyesali atau mempertanyakannya.
Ya, ada yang pernah mengatakan bahwa waktu adalah hidup. Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Karena toh ada tidaknya diri kita, variabel waktu terus saja berjalan. Satu-satunya hal yang tak bisa dihentikan oleh manusia.

Waktu.
Ia terikat kuat dengan yang namanya takdir.
'Kau percaya takdir?' Pernah ada yang bertanya padaku.
Ah- Bagiku takdirlah yang membawaku ke titik ini.
Aku memiliki Tuhan, Illah, Rabb... Alloh, Alloh Yang Maha Agung, Yang Maha Perkasa...
Mungkin aku bisa merubah takdir, tapi jangan diterima secara mentah. Aku hanya mampu berusaha, berdoa. Pada hasil akhirnya aku menyerahkan pada takdir. Pada apa yang digariskan kepadaku. Yang sudah dituliskan di kitab Lauhul Mahfuzh.

Alloh.
Adalah sebab aku kini berada di sebuah kamar duasetengah kali empat meter ini.
Adalah hal yang membuatku masih mampu bernafas, menghirup udara kotor yang secara otomatis diserap oksigennya oleh paru-paru, baru kemudian dikeluarkan lagi udara yang tidak perlu.
Alloh, adalah alasan mataku mampu mengedip, mempertemukan dua baris bulu mata yang awalnya tidak menyatu.
Ia juga adalah satu-satunya yang membuat jantung dalam tubuhku berdenyut. Memompa darah dengan harmonisnya dengan koordinasi serambi kanan, serambi kiri, bilik kanan, bilik kiri, disertai katup-katup dan pembuluh yang saling melengkapi.
Semua... Tubuhku, aliran darahku, bahkan kerja saraf yang mengagumkan ini...
Semua bersumber dari satu hal; ALLOH. Ar-Rahmaanurrahiim.

Maka pantaskah aku justru hidup tidak dengan aturan Alloh?
Sungguh pertanyaan itu tidak perlu dijawab.

Aku. Kini.

Aku sudah berubah, berbeda. Ah-hanya lahiriah. Apakah batinmu juga sudah berubah?

Aku. Harusnya itu yang aku katakan pada diriku: Apa bedanya rizka hari ini dengan rizka kemarin?

Jangan hanya diam di satu titik ini. Harusnya bisa lebih baik, jauh lebih baik dari sekarang.




-nurrahma, 10 juni 2013, 1 Sya'ban 1434 H-

Sabtu, 01 Desember 2012

Peta Hidup?

And now, balik ke hidup yang produktif !
Well, I don't want to be like this forever-uh, menyedihkan sekali pasti.

Kemarin, karena terinspirasi oleh beberapa blog teman, aku sudah mulai membuat peta hidup. You know, what? P-E-T-A   H-I-D-U-Psound cool, rite?

ok, berlebihan.
tapi soalnya aku lagi penuh semangat, nih :). Mumpung semangat, ya diarahkan sekalian ke yang positif kan? ;D

Jadi, peta hidup itu semacam mimpi-mimpi kamu.

Tuliskan aja sedetail mungkin, misal: '20 Januari aku menang lomba Bahasa Jepang'; atau 'UNAS 2013: masuk 3 besar terbaik'. Yah, nggak harus yang akademik gitu, sih. Tentang kamu mau beli DSLR, atau bisa masak sayur lodeh, itu juga ditulis aja.

Paham'kan intinya, kayak catatan target hidup gitu. Tapi dibikin menarik, dikasih warna-warna. Bikin sedetailnya plus dikasih gambar biar semangat mewujudkannya. Kalau bisa dibikin di kertas yang agak besar terus ditempel di kamar :)

Seriusan deh, bikin beginian itu juga melatih kita biar mau bermimpi. Biar nggak takut bermimpi. Kalau kata Hasan Al Banna sih:

“Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemarin, dan mimpi kita hari ini adalah kenyataan hari esok.”

Tuh, semua berawal dari mimpi, dari harapan. Istilahnya salah satu kakak angkatanku dulu: manusia yang hidup tanpa harapan; hidup tanpa mimpi itu kayak ZOMBIE.

Makanya jangan takut bermimpi. Kenapa? Karena ada AllohBe khusnudzon sama Alloh. Yakin deh, Alloh pasti mendengar kita. Berharaplah kepada Alloh supaya Ia mengabulkan mimpi-mimpi kita. :DD Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini kalau Alloh mengizinkan. Pokoknya yakin, niatkan dalam hati. Berusaha , full doa juga.

Semoga (dan insyaAlloh) Alloh mengabulkan mimpi dan harapan kita...


"Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu."

-Arai; Tetralogi Laskar Pelangi-

1 desember 2012
kepada desember penuh cinta,
nurrahma rpa

SUDAH: sebuah catatan


by nurrahma-2010. BenQC740i


SUDAH














Sudah






sudah kutumpahkan semuanya
pada kertas kertas itu -biasa
kau juga pasti tahu



cerita tentang apa katamu?
jelas tentang kau
tentang kamu

kamu yang seperti titik pada dimensi
selalu mampu berubah semaumu
membingungkan
boleh jadi kata tepatnya ambigu
aneh sungguh-kau tahu?

mungkin ini jadi terakhir kalinya aku mengajakmu menelisir kertasku
ikut mendengar apa yang tertuang dari pena gelku, kadang pensil timah biasa
bosan-kah kamu? 
mungkin saja ya

makanya kubilang juga apa: sudah

sudah selesai
harusnya ini semua sudah rampung

terimakasih
terimakasih selama ini mau kukenalkan pada airmata, pada
kegetiran, pada tawa, pada ketidakjelasan



salam untuknya...


nurrahma, 1 des '12

Minggu, 09 September 2012

Astaghfirullah...

Alloh... Aku pingin nangis.. :_(

Ah-padahal baru beberapa menit yang lalu aku mulai merangkai kata tentang mu,
tentang dia, tentang kita..
Betapa merindunya aku pada sepotong kebersamaan,
pada sepoles tawa dan sayap semangat yang selalu menguar, ada.
Pada keluarga, persahabatan.

Atau hanya sesuatu yang disebut keluarga?

Nyatanya kini aku merasa tiada
Merasa asing barang sejenak dan terhenyak
tiba tiba saja semua jadi sendiri.
Aku, tanpa kamu, tanpa kalian..
Atau kalian , tanpa aku?

Padahal toh harusnya tanpa kamu pun, aku tetap keluarga, tetap bersama, tetap ada..
Ah...

Astaghfirullah...
Astaghfirullah...

pada Al-Khawarizmi
syawal 1433H






Kamis, 26 Juli 2012

Lihat Saja Nanti


Tak mudah mencari orang orang yang sepaham.
Tak harus sepikiran, tak mesti satu jalan.

Hanya butuh satu tujuan: Alloh Ta'ala. :)

Tentang cara kami yang seperti ini, lalu ada apa?
Asal tak melanggar aturan,

tak masalah saja.

Memang terlihat tak memiliki kekuatan,
tapi lihatlah esok nanti.

akan ada perubahan,
dari semua yang akan dan telah kami perjuangkan.
harus dan pasti ada!

bismillah..
luruskan niat,
InsyaAlloh, Alloh memudahkan, melancarkan..
Istiqomah..

ALLOHUAKBAR!

>:D


nurrahma,
Ram 1433 H

Minggu, 15 Juli 2012

katamu

aku tahu kau merindu pada sepotong lalu
diantara semai dan deru biru
yang terburai dari sepucuk tawa

teman-kau kata


aku tahu betapa makna tak mampu terlelap begitu saja
pada denting denting waktu
lalu perlahan melewati ujung ujung pintu

tak bisa kulupa-teriakmu

ah-terlalu sulit mencari pengharapan baru
mengulang menyerik titik satu satu
naif


(sebuah cahaya redup)


lalu mengapa kau tetap disitu

(aku mulai tak tahu)


nurrahma
sya'ban 14333 H